TitikNOL - Ternyata di kalangan negara-negara Asean (Asia Tenggara), Indonesia yang pertama melakukan pembangunan kereta cepat.
Hal ini dikatakan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno.
Rini mengaku, belum pernah ada negara di ASEAN yang mampu membangun kereta berkecepatan 350 kilometer (km) per jam tersebut.
Dia bersyukur lantaran saat ini semua pemangku kepentingan (stakeholder) telah bisa duduk ‘satu meja’ untuk mendukung proyek kereta cepat yang menjadi ambisinya tersebut.
Rini telah menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Dan Indonesia Railway Manufacturer Association (IRMA), dalam rangka pengkajian dan penerapan teknologi untuk mendukung pembangunan infrastruktur industri kereta cepat dan memperkuat struktur industri nasional.
Selain didukung BPPT dan IRMA, proyek kereta cepat rute Jakarta-Bandung ini juga didukung Kementerian Perindustrian, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, serta Kementerian Perhubungan.
“Jadi, tentunya saya bahagia kalau kita betul-betul antara BPPT, Kemenristekdikti dan Kemenperin saling mendukung untuk pengembangan industri perkeretaapian.”
“Saya senang semua stakeholder mau bersama. Mari kita sama-sama punya komitmen, tidak ada lagi kata nanti, tapi sekarang,” katanya di Gedung BPPT, Jakarta, Selasa (26/7/2016).
Sumber: www.sumut.pojoksatu.id
Video Pasangan Remaja Berbuat Mesum diduga di Banten Viral di Medsos
18 Agustus 1945 - UUD Negara Republik Indonesia Disahkan dalam Sidang PPKI
Tempat Kuliner Pizza Italia Terbaik Hadir di Kota Cilegon
PPP Gelar Mukernas di Banten
Polisi Tetapkan Suami yang Selingkuh dengan Mertua di Serang Tersangka Perzinahan
Polisi Buru Pemilik Satu Tronton Miras Impor yang Diamankan di Pelabuhan Merak
Ini Kata Pj Gubernur Soal Mahasiswa yang Dapat Tindakan Represif di Paripurna HUT Banten ke23
Oknum Kades Pelaku Pengeroyokan Wartawan Tidak Ditahan, Kuasa Hukum Protes Polisi
Soal Izin Tempat Hiburan Malam, Walikota: Kalau Sekarang Dicabut Kurang Etis