TitikNOL - Penyebab dari kasus hepatitis akut di Indonesia masih misteri. Sebab hingga kini masih belum diketahui oleh para ahli dan ilmuan.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI dr. Mohammad Syahril mengungkapkan, ada enam dugaan penyabab kasus hepatitis akut. Hal itu berdasarkan data UK Health Security Agency, 19 Mei 2022.
Di antaranya adenovirus biasa, adenovirus varian baru, sindrom post-infeksi SARS-CoV-2, paparan obat, lingkungan, atau toksin, patogen baru, kemudian varian baru SARS-CoV-2.
"Ini hipotesis-hipotesis, atau kemungkinan-kemungkinan atau dugaan-dugaan sebagai penyebab hepatitis akut," katanya dikutip dari laman Kemenkes, Selasa (31/5/2022).
Ia menjelaskan, hipotesis terhadap hepatitis akut itu terjadi di Inggris terutama dan Amerika.
Terkait kondisi di Indonesia, ia mengatakan tinggal menunggu informasi terbaru hasil penelitian dugaan penyabab hepatitis akut tersebut.
"Nanti kita ikuti saja karena ini baru hipotesis, kita akan mengarah ke 6 hipotesis itu yang menjadi dugaan kuat oleh para ahli atau para ilmuwan," ucapnya.
Situasi nasional hepatitis di Indonesia per tanggal 23 Mei 2022 pukul 16:00 WIB kasus kumulatif dugaan hepatitis akut ada 35 kasus.
Ada 19 kasus di antaranya discarded, dan ada 16 kasus probable dan pending classification.
Sebanyak 16 kasus ini tersebar di 10 provinsi yakni DKI Jakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, Bangka Belitung, Jambi, Sumatera Barat, Banten, DIY, dan Sulawesi Selatan. (TN3)
Video Pasangan Remaja Berbuat Mesum diduga di Banten Viral di Medsos
Tempat Kuliner Pizza Italia Terbaik Hadir di Kota Cilegon
18 Agustus 1945 - UUD Negara Republik Indonesia Disahkan dalam Sidang PPKI
PPP Gelar Mukernas di Banten
Polisi Tetapkan Suami yang Selingkuh dengan Mertua di Serang Tersangka Perzinahan
Polisi Buru Pemilik Satu Tronton Miras Impor yang Diamankan di Pelabuhan Merak
Ini Kata Pj Gubernur Soal Mahasiswa yang Dapat Tindakan Represif di Paripurna HUT Banten ke23
Oknum Kades Pelaku Pengeroyokan Wartawan Tidak Ditahan, Kuasa Hukum Protes Polisi
Soal Izin Tempat Hiburan Malam, Walikota: Kalau Sekarang Dicabut Kurang Etis