TitikNOL - Kehidupan di kota - kota besar seperti Jakarta, membuat gaya hidup bebas menjadi hal yang lumrah. Dengan dalih ranah privasi, membuat masyarakat perkotaan tak sedikit yang melegalkan gaya hidup seks bebas.
Pengamat Sosial dan Budaya Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengatakan banyak penyebab semakin maraknya seks bebas. Ia membenarkan masalah itu terus berkembang di wilayah perkotaan di Indonesia.
"Mengapa? Karena pola hidup di perkotaan sama sekali berbeda dengan di desa, tak ada norma yang benar-benar cukup kuat untuk mengikat. Perilaku seseorang tak mungkin benar-benar diawasi sepenuhnya bila ia hidup di kota yang identik penduduk yang padat, sangat beragam, ketat kesibukannya," jelasnya di Depok, Minggu (12/01/2014).
Devie mencontohkan suatu kasus misalnya ada tetangga pria di sebuah rumah kost di pusat kota membawa wanita ke kamarnya.
"Apakah kita punya nyali untuk menegurnya? Saya tak bermaksud mengatakan bahwa kita keliru kalau tidak menegurnya, yang mau saya katakan, inilah kehidupan kota. Kita takut untuk mencampuri urusan orang lain, orang lain enggan untuk mencampuri urusan kita," ungkapnya.
Dunia orang yang tinggal bersebelahan kamarnya pun bisa sama sekali lain, pekerjaannya bisa berbeda jauh. "Kalau yang satu kasir, yang lain bisa jadi penipu, amat beda dengan di pedesaan," jelas penulis buku 69 Panduan Humanis Menghadapi Wartawan ini.
Ada ungkapan dari seorang warga daerah yang menceritakan hidupnya di Jakarta ke keluarganya di kampung, urusanmu ya urusanmu, urusanku ya urusanku. Menurut Devie hal ini menunjukan gambaran telanjang kehidupan di kota.
Kondisi ini ditambah dengan keterpaparan remaja terhadap budaya yang melazimkan praktik seks bebas.
Sebelum menyampaikan solusi, kata Devie, perlu diidentifikasi sebenarnya apa dampak hubungan seks pranikah.
"Konsekuensinyalah yang sangat berbahaya. Remaja yang mesti membina keluarga di saat mereka belum siap memiliki risiko broken home yang lebih tinggi. Belum lagi, bagaimana dengan pendidikan mereka? Ini berpotensi menciptakan the lost generation," kata dosen Vokasi UI ini.
Aborsi pun malah lebih berbahaya, berisiko bagi kesehatan bahkan keselamatan jiwa sang pelaku aborsi. Belum lagi risiko penyakit menular. Remaja punya kecenderungan melakukan hubungan seksual tanpa mengindahkan risiko-risiko.
"Sebenarnya tak boleh diremehkan ini. Solusi yang pertama perlu dilakukan pertama-tama adalah menetapkan batasan-batasan legal yang gamblang kapan hubungan seksual diperkenankan. Jangan hanya membiarkan lagi sekadar tabu atau norma masyarakat yang berperan dalam mencegah hubungan seksual pranikah," tutupnya.
Sumber: www.sindonews.com
Video Pasangan Remaja Berbuat Mesum diduga di Banten Viral di Medsos
Cara Meracik Obat Perangsang Wanita Secara Alami
18 Agustus 1945 - UUD Negara Republik Indonesia Disahkan dalam Sidang PPKI
Ini Nama Pejabat Banten yang Dipanggil Kejati Terkait Dugaan Korupsi RSJ Tahap I
Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Ditangkap di Bandara Selandia Baru Cuma Gara-gara Ini
26 Jenis Daun Tanaman yang Berkhasiat Untuk Obat
Tempat Kuliner Pizza Italia Terbaik Hadir di Kota Cilegon
Cara Meluruskan Rambut Permanen Secara Alami
Cara Ampuh Mengobati Asam Lambung atau Maag dengan Tepung Sagu
3 Waktu yang Dilarang Hubungan Seks Suami Istri dalam Islam