SERANG, TitikNOL - Jelang natal dan tahun baru 2021, sejumlah harga komoditi di Pasar Induk Rau, Kota Serang mengalami kenaikan. Hal ini pun dikeluhkan para pedagang nasi dan gorengan di Kota Serang.
Pantauan di pasar seperti harga telor dari Rp22 ribu naik menjadi Rp28 ribu per kilogramnya, cabai kriting dari Rp30 ribu melonjak Rp65 ribu perkilogramnya, cabai dari Rp30 ribu menjadi Rp60 ribu.
Selain telor dan cabai, kenaikan harga juga terjadi pada komoditi daging ayam potong dari Rp28 ribu menjadi Rp35 ribu satu kilogram, minyak curah dari Rp9 ribu naik menjadi Rp12 ribu, minyak kemasan dari Rp11 ribu naik menjadi Rp14 ribu.
"Pada naik semua, cabai, telor juga daging semuanya naik. Enggak tahu (penyebabnya) mau tahun baru kali," kata Ami, salah satu pemilik warung nasi, Kamis (17/12/2020).
Ami mengaku terpaksa mengurangi jumlah pembelian kebutuhan untuk berdagangnya. Dari biasanya membeli satu kilogram bahan, saat ini hanya mampu beli setengah kilogram.
"Ya rugi mas warung nasi mah butuh cabai telor kaya gitu, biasanya bisa menyiapkan banyak sekarang sedikit. Biasanya kami naikin dua ribu persatu porsi makan kalau harga di pasar naik tinggi," jelasnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Eful, salah satu pedagang di Pasar induk Rau. Ia mengaku kesulitan menjual, karena hampir semua komoditi mengalami kenaikan harga.
"Ya naik turun, sekarang lagi naik susah menjualnya, yang untung kan bos besarnya, kami pedagang eceran kaya gini susah," tukasnya. (Gat/TN1)
Video Pasangan Remaja Berbuat Mesum diduga di Banten Viral di Medsos
18 Agustus 1945 - UUD Negara Republik Indonesia Disahkan dalam Sidang PPKI
Tempat Kuliner Pizza Italia Terbaik Hadir di Kota Cilegon
Khasiat Minum Air Asam Jawa untuk Kesehatan
Banyak KTP Ganda Menjelang Pilkada, DPR Panggil Dirjen Dukcapil
Ini Nama Pejabat Banten yang Dipanggil Kejati Terkait Dugaan Korupsi RSJ Tahap I
PPP Gelar Mukernas di Banten
Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Ditangkap di Bandara Selandia Baru Cuma Gara-gara Ini
Banten Lama Jadi Tempat Launching Bank Banten
Tinjau Pelabuhan Merak, Komisi V DPR RI Minta 'Zero Accident'